Ready to Wear atau Haute Couture?

atasan batik wanita - rema blouse

Busana ready to wear merupakan produk garmen yang paling sering ditemukan di pasaran. Tentu saja istilah ini tidak hanya merujuk pada beragam model kaos, celana, ataupun rok yang sering dipakai oleh beragam lapisan masyarakat. Tetapi mengacu pada segala jenis produk garmen berbentuk pakaian yang siap dibeli dan dipakai oleh siapa pun.

Ciri Khas Busana Siap Pakai

Busana siap pakai pada dasarnya merupakan jenis busana yang diproduksi secara massal. Oleh karena itu beberapa ciri berikut melekat pada produk garmen ini:

  1. Standard ukuran yang digunakan merupakan standard baku yang diakui secara internasional, yaitu: S, M, L atau beberapa menggunakan ukuran angka seperti 4, 5, 6, 7 untuk anak – anak dan 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14 untuk dewasa.
  2. Tidak diperlukan proses fitting dalam pengerjaan desain maupun proses menjahit.
  3. Dapat ditemukan dengan mudah di pasar tradisional, department store, bahkan hingga butik.
  4. Sebagai sebuah produksi massal, maka akan ditemukan banyak pakaian dengan desain dan model yang serupa.
  5. Tidak melulu berupa pakaian yang sering dipakai sehari – hari, busana siap pakai juga dapat ditemui dalam bentuk gaun pesta, gaun cocktail, bahkan gaun pengantin.

Adibusana

Adibusana merupakan padanan dari bahasa Perancis, Haute Couture, yaitu busana yang didesain dan dibuat secara eksklusif untuk pemesannya. Tetapi, tidak serta merta busana yang dipesan kepada penjahit merupakan produk Haute Couture.



Untuk memperoleh gelar desainer Couture, maka setiap desainer wajib mempresentasikan koleksi dengan 50 desain original dihadapan khalayak ramai di dunia fashion. Selain itu, para desainer juga diharuskan untuk memiliki atelier di Paris dengan staf minimal 15 orang. Oleh karena itu, tidak semua desainer memiliki gelar couture dalam karya – karya. Beberapa desainer dalam ranah ini antara lain Chanel, Christian Dior, Givenchy, dan Jean Paul Gaultier. Sementara desainer Indonesia yang menjadi bagian dari Asian Couture yaitu Tex Saverino, Sebastian Gunawan, dan Rinaldy A. Yunardi.

Untuk seorang desainer atau penjahit dapat dikatakan menghasilkan sebuah adibusana, maka harus mengikuti beberapa pakem yang ditetapkan oleh asosiasi busana Haute Couture di Paris, antara lain:

  1. Desain yang dihasilkan merupakan desain yang secara khusus dipesan oleh klien dan benar – benar sesuai dengan ukuran serta bentuk tubuh klien tersebut. Sehingga dalam pengerjaannya bisa dilakukan fitting hingga berkali – kali sampai ditemukan kecocokan dan kesesuaian dengan keinginan klien.
  2. Teknik menjahit yang dipergunakan merupakan teknik menjahit tingkat tinggi yang mengedepankan detail, kerapian, serta kehalusan hasil jahitan. Bahan – bahan seperti kancing, renda, border, bahkan hingga resleting merupakan hasil pengerjaan yang dilakukan oleh desainer itu sendiri.

Proses pengerjaan yang begitu detail dan penuh kehati-hatian inilah yang menyebabkan harga produk adibusana melambunga jauh diatas harga lini siap pakai. Ditambah lagi, gaun yang dihasilkan hanya dapat dikenakan oleh satu pemesan khusus yang membuatnya lebih eksklusif dan jauh dari kesan pasaran.

Tetapi, apakah konsumen yang mengenakan busana dengan merek Chanel atau Givency berarti telah mengenakan karya Haute Couture? Jawabannya adalah “tidak”. Ingat bahwa busana couture dibuat dengan desain dan ukuran spesifik yang hanya dapat dikenakan oleh pemesannya. Jadi, meskipun busana – busana yang dipajang dan dijual di butik – butik terkenal merupakan karya perancang couture, selama diproduksi dengan jumlah lebih dari satu, maka termasuk dalam kategori baju siap pakai.

Ready Made New Designer indian/pakistani fashion salwar kameez for women VF (X LARGE-44, Blue)

WhatsApp chat
%d bloggers like this: